Hari menjelang isya kala seorang lelaki setengah baya itu memasuki salah satu ruangan yang riuh dengan suara empat orang anak yang sedang asyik menonton sebuah tayangan musik di televisi.
Sesekali terdengar mereka menirukan lirik demi lirik yang di bawakan oleh groub band yang tengah naik daun saat itu. He, apa lagi kalau bukan ungu. Lagu-lagunya yang menyentuh dengan syair yang sederhana dan mudah ditirukan itu ternyata menarik perhatian mereka. Bowo, yang paling kecil yang paling suka lagu itu.
“kak, hp kakak ada pulsanya nggak?” ayah menghampiriku dan ikut bergabung dengan kami. ku raih hp ku lalu ku pencet beberapa tombol..
Tut, tut, tut *388# call.
pulsa UTAMA rp.64. aktif 23/03/2009.
“abis yah, tinggal 64 rupiah. Kenapa yah?”tanyaku penasaran.
“Beli sekarang ya, ni ayah kasih uang. Ayah mau telfon ibumu.”sambil mengeluarkan uang 50an dari kantongnya.
Tanpa menunggu lama, aku pun langsung beranjak meraih seendal dan kunci motor. Segera aku pergi memenuhi permintaan ayah.
Tak berapa lama aku kembali.
“ni, kembaliannya yah..”
“buat kamu aja. Sekarang pencetin nomor pak de mu.. bilang, ayah mau ngomong sama ibumu.”
..085783171783.. tut, tut, tut..
“halo, assalamu alaikum. Pak de..”
“wa’alaikum salam.. ada apa ndok?” jawab seorang pria nan jauh disana dengan suaranya yang khas dan tegas.
“ayah, mau ngomong sama ibu pak de..”
“oiya, bentar ya.” Ku serahakan hp ku ke ayah lalu ku tinggal mereka ke dapur, tak tau apa yang mereka bicarakan. Tapi terlihat percakapan mereka sangat serius. Hemm, aku g mau tau ah. Aku senag berada di dapur. Disitu ada beranda dari bambu. Aku biasa duduk disitu sambil menunggu masakan siap dihidangkan.
“kak, kak, ibu mau ngomong ni ka..” teriak ayah dari ruang tengah. Tumben ibu mau ngomong sama aku. Aku langsung menuju ruang tengah.
“halo, bu.. ada apa?”
“gimana kabarnya bu? Udah makan malam belum bu? Hari ini kemana aja? Di rumah aja bu?”
Ibu ku menjawab satu persatu pertanyaan ku dengan senang..
“ ibu disana siapa yang nyuciin baju? Ibu udah enakan belum?”
Aku bertanya seolah aku seorang polisi yang sedang mengintrogasi tersangka. Ya, aku melakukannya karena aku cemas. Aku cemas dengan kondisi ibu yang tak kunjung baik. Nafas ibu nampak berat. Aku tak tega berlama-lama.
“wes lah lik..” terdengar lagi suara pria yang berusaha menghentikan pembicaraanku dengan ibu.
“bentar mas, coba kalau kamu kangen sama lita?”
ku dengar ibuku membalas suara itu.
Aku tak bisa berkata-kata apa lagi.
“kenapa ndok? Kamu kangen to sama ibu?”tanya ibu dengan polosnya. Air mata ku tak bisa terbendung lagi. Aku tak sanggup berkata apa-apa.
“I,,iii,,,iya bu...” sambil sesenggukan ku jawab pertanyaannya.
“sekolah yang rajin ya ndok.. nanti kalau udah pinter, nyari uang gampang. Porang itu kalau bisa apa-apa malah lebih bagus. yo??? Ibu udah bilang sama pak de, sama ayahmu, sama nenek sama bude masreh juga. Apapun yang terjadi kamu harus sekolah. Ngerti ndok?”
“Iya bu..”jawab ku pelan.
“yo wes yo ndok..”tut, tut, tut.. tiba sambungan telefon terputus..
Aku masih diam sambil menghapus air mata ku. Aku masih sesenggukan. Aku langsung menuju kekamar. Ku putar radio lirih.
tak pernah terfikir oleh ku
tak sedikitpun ku bayanmgkan
kau akan pergi tinggalkan ku sendiri
begitu sulit ku bayangkan
begitu sakit ku rasakan
kau akan pergi tinggalkan ku sendiri
lantunan lagu ST12 mengirinngi malam ku. Kakak ku menghampiriku. Tapi dia hanya berbaring disampingku. Aku pura-pura tidur dan menahan peluh yang dari tadi membasahi bantal dan selimutku.
Tiba-tiba dia memelukku. Aku kaget. Tak pernah dia lakukan ini sebelumnya. Aku tetap pura-pura tidur. Tapi aku tak bisa tidur. Aku tak bergerak sama sekali.
Kemudian dia bangun dan mematikan radio. Dia keluar dari kamarku. Akuu masih pura-pura tidur sampai ku pastikan dia telah jauh dari kamarku.
Jarum jam telah menunjuk angka 11.00. aku belum bisa tidur juga. Aku gelisah. Lalu aku menangis. Aku menangis lagi. Aku menangis sesenggukan. Aku berusaha keras untuk tidur. Tapi tak bisa tidur juga.
Sekarang udah pukul 1.00. aku kekamar mandi dan membasuh mukaku dengan air wudu. Jauh lebih segar.
aku berdiri menghadap Rabbku. Ku coba untuk khusyu’. Tapi air mata ini tak tertahankan. Aku ketakutan. Seperti ada yang menghampiriki, mengelus dan menenangkanku. Hangat, kurasakan belaian yang sangat hangat. Tapi air mata ini belum juga surut.
“Ya Alloh, Insya Alloh aku udah ikhlas. “ lirih terucap dari mulutku yang basah.
Kemudian aku pun beristigfar. “Astagfirulloh hal ‘adzim..”
Ku baringkan baadanku, dan aku pun tenang. Aku tertidur pulas hingga pagi itu aku pun bangun lebih siang dari biasanya. Aku tak sempat sarapan. Aku langsung berangkat kesokalahh, meskipun masih pagi. Tak biasanya aku berangkat sebelum sarapan dulu padahal hari itu masih pagi. Kadang aku lebih memilih terlambat dari pada g sarapan.
Suasan kelas kurasa berbeda. Aku hanya melamun seharian itu. Hingga bel pulang pun aku masih merasakan otakku kosong. Tatapanku hampa.
Parkiran sekolahku terasa sangat penuh dan ramai. Aku duduk. Dengan lis disampingku. Sahabat yang selalu bersamaku tiap pulang dan pergi sekolah.
“bentar ya lis, aku masih belum mau pulang ni. Masih rame banget.” Aku nyerocoh dengan muka ketus.
“yani mana yani.. “
Ku dengar suara perempuan paruh baya mencariku.
Aku pura-pura tak mendengarnya. Tapi dia terlanjur telah menemukanku.
“yan, ada keluargamu yang mencarimu. Katanya, kamu harus ke Banyuwangi sekarang.”
Aku hany bengong. Perempuan itu menggandengku dan mengambil kunci motorku dan memberikannya pada lis.
Rizal menatap ku lama. Kemudian dia mengawalku dan memboncengku.
Aku masih diam. bayanganku terlintas kemna-mana. Aku sudah tak fokus lagi tak tau apa yang terjadi. Aku masih syok saat rizal menjemputku. Semua terasa tak biassa. Apa lagi hubunganku yang tak dekat dengannya.
Masih ku bertanya, kalau ada apa-apa kenapa g toni aja yang menjemputku. Aku bertanya-tanya dalam hati hingga sekejap saja aku telah dirumah dan orang-orang merangkulku dan mengelus dadaku.
Kulihat ayah ku terkulai bersandar di dinding. Wajahnya nampak lemas. Tatapannya hampa sama sepertiku. Apa gerangan yang tejadi. Aku masih belum sadar. Hingga seorang nenek beruban berbisik pada ku pelan.
“yang sabar ya ndok..”
Sepertinya aku telah tau apa maksudnya.
Aku langsung menuju kamarku dan aku hanya ingin sendiri. tak ku izinkan mereka masuk. Aku hanya merenung. Tangis ku tumpah, dan sekarang tak bisa kutahan lagi.
“Ya Alloh, aku udah ikhlas” ucapku lirih. Dan aku pun bangkit. Aku kuat. Aku akan kuat.
Sedihnya..
BalasHapusNice story!!!