Rabu, 28 Desember 2011

Mimpi Tuti


Sayup-sayup terdengar kumandang azan dari surau sebelah kosannku. Aku tergagap terbangun dari tidurku. Dengan nafas tersengal-sengal aku mencoba mengembalikan kesadaranku.
“hufft,, ternyata mimpi”
Aku pun segera mengambil air wudhu dan pergi ke mushola .
Tiba-tiba dalam sholat ku, bayangan ibuku terus bernostalgia di anganku. Bahkan hinga salam pun bayangan itupun tak urung pergi.
Kuingat senyumnya, keningnya, bibirnya, mata’a yang berbinar, gelak tawanya, ciuman mesranya, buaian kehangatannya.. aku pun menarik nafas panjang.
“aku merindukanmu..”, terucap lirih kata itu dari bibir ku..
Segera bergegas ku kembali ke kamar dan membongkar-bongkar kardus usang di sudut kamar yang tlah lama tak kusentuh semenjak aku pindah kosan..
“Hemm,, masih ada..”, ku raih sebuah agenda yang telah berdebu di antara tumpukan buku-buku kuliahku.
Kubuka pelan, dan kubuka lembar demi lembar, hingga di lembar terakhir, kutemukan du lembar foto 4x6 yang telah usang. Yang satu fotoku dengan teman-teman sma ku, yang satunya adalah foto ibuku .
“hihihi..”aku tersenyum-senyum memandanginya.
“cantik.. ibu masih sangat cantik kala itu..”, kupeluk erat foto itu dan kuciumi.
“ibu, aku rindu sekali dengan ibu.. tunggu ankmu ini pulang ya bu..”
Ku nyalakan musik kesukaanku satu rindunya opick..
Dan aku pun ikut bersenandung..
Hujan kau ingatkan aku
ttg satu rindu
Di masa yang lalu
Saat mimpi masih
Indah bersamamu
Reff :
Terbayang satu wajah penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah penuh dengan kehangatan
Kau ibu
Allah jizinkan aku
Bahagiakan dia
Walau dia tlah jauh
Biarkan aku
Berarti baginya
Lagu-lagu opick terus mengalun dan berulang-ulang. Aku terlelap dalam lamunanku, dan beberapa saat aku tertidur.
Pulas, dan semakin pulas hingga lagu yang kuputar berulang-ulang itupun tak terdengar lagi.
“ibu, ibu, ibu.. ibu mau kemana bu?” tanyaku pada seorang wanita yang mengenakan gaun serba putih. Wajahnya cerah dan nampak muda. Aku terus berlari mengejarnya. Tapi ibu semakin menjauh dan semakin jauh.
“ibu,, aku kangen.. ibu.. jangan pergi..”
Tiba-tiba seperti ada sekat yang membatasi antara aku dan ibuku.. sayup-sayup kudengar ibu mulai berbicara.
“ibu ingin itu nak,, ibu ingin itu.. maukah kau menghadiahkan itu nak?”
“Mau kah anakku?”, pinta ibuku sambil menunjukkan pada ku sebuah mahkota yang bercahaya. Sangat indah, indah sekali.
 “kau pasti bisa nak..”
Kulihat senyum yang penuh harap dan lambaian tangan yang haru.
“insya Alloh bu..” jawab ku lemah.
Kembali tergagap, aku terbangun dari tidurku.
“Ternayata hanya mimpi”, ucapku lirih..
 ***
“Ya Alloh, apa ya maksud mimpi tadi”.. otakku terus berputar-putar dan buntu. Tak kutemui jawaban pasti.
“ Ya Alloh, apa maksudnya”, aku mencoba lebih keras memahami mimpi itu.
Tapi tak mampu ku pahami.
Jam menunjukkan pukul 13.35.
“aku harus pergi. Aku sudah telambat. Haduh, udah selesai belum ya”..
Dengan langkah yang terburu-buru aku menuju ke mushola, karena siang ini ada kajian kemuslimahan yang disampaikan oleh mbak Mia.
Mbak Mia itu mapres Biologi, orangnya cantik, pinter. Subhanalloh deh. Maka’a aku g mau ketinggalan.
“nik, materinya hari ini apa?”, tanyaku pada nunik yang kebetulan duduknya paling pinggir.
“birul walidain ti.”. Jawabnya singkat.
“piinjem catetannya donk nik?”, secepat kilat langsut kusambar bloknote’a tanpa permisi. Ku baca satu perstu piont yang dicatat nunik.
“nik, ini maksudnya apa? Seorang anak yang hafal Al-Qur’an, akan manghadiahkan mahkota yang bercahaya kepada kedua orang tuanya dan menyelamatkan orang tuanya dari siksa api nerak. Beneran nik?”, tanyaku penasaran.
“oo, itu.. ya bener lah.. itu kan materi dari si embak. Masa’ g bener sih. “
“ beneran nik?”, tanyaku lagi.
“ ya beneran lah, kalu g percaya nanya langsung atau sama mbak mia..”
Sontak tangis ku tak tertahankan lagi. Butiran-butiran air mata mengalir seenaknya di pipiku. Aku mulai sesenggukan. Benar-benar tak bisa kutahan.
“kenapa ti? Kamu kenapa kok tiba-tiba nangis gitu? Wong dateng-dateng kok malah nangis ki piye to ti.. ti..” tanya nunik sambil ngelus-ngelus pundakku.
“gpp nik.. insya Alloh ini air mata bahagia nun..”
Eeeyalah, yaudah... wes meneng yo ndok!!”
“iya, nik..” aku pun mulai tenanng..
“ternyata ini yang ibu ku inginkan nik.. ibuku mau mahkota dari cahaya ini nik”.. tuturku lirih.
“oalah, ti.. yowes, sekarang perbanyak hafalannya.. di optimalkan lagi hafalannya.. biar bisa menghadiahkan mahkota dari cahaya ini untuk ibumu ti..”
“Iya nik”.. jawabku singkat..
“wes, meneng.. nunik doakan mudahan tuti bisa jadi hafidzoh ya.. wes meneng yo cah ayu..” hibur nunik dengan logat jawanya yang khas..
“iya, nik.. trimakasih ya nik..”
****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar